Langsung ke konten utama

Postingan

Favorit

Yang Berubah di Antara Nada

Semua hal bisa berubah dalam satu hari. Begitu saja. Tanpa pernah kau duga sebelumnya.
“Ibu minta kunci motormu, Furi. Tolong.” Ibuku menatap dengan pandangan tetap yang tak tergoyahkan.
“Ibu, please?” suaraku meninggi. “Jangan sita kunci motorku. Aku tidak bisa ke mana-mana tanpa motor itu! Ibu mau aku berjanji? Oke! Aku tidak akan mengulangi perbuatanku.”
Ibuku bergeming. “Kau mengatakan hal yang sama sebelumnya. Ibu ingin kau belajar bertanggung jawab, Furi. Untuk kebaikan hidupmu sendiri.”
Yah, itu artinya tidak ada lagi negosiasi. Aku kesal luar biasa. Dengan sedikit kasar, kuserahkan kunci motorku. “Ibu pasti puas sekarang!” seruku marah, lalu meninggalkan ibuku dengan langkah lebar dan mengentak. Aku berencana mengunci diri di kamar sampai bosan. Tapi, ini hari libur. Aku mengintip ke luar jendela, dan menyadari langit cerah. Aku tak mungkin menghabiskan waktu seharian tanpa berbuat apa-apa.
Jadi di sinilah aku sekarang. Halte bus. Menunggu bus dengan tujuan Blok M. Bus adalah pil…
Postingan terbaru

Leven

Ini kali pertama kau menghirup udara kota ini. Seharusnya terasa sama saja, tapi kau merasa berbeda. Mungkin, karena setiap kota memiliki aromanya masing-masing. Dan kau belum bisa memutuskan, apakah kau bisa menerima aroma keasingan ini menjadi keakraban.
Kau berjalan perlahan memasuki sebuah halaman asri yang terlihat serupa dengan warna matamu. Bangunan sederhana di hadapanmu terlihat terawat baik. Belum pernah kau merasa begitu gugup untuk memasuki sebuah tempat. Dan tepat setelah kau berdiri dalam keteduhan ruangan, kau dan ia untuk pertama kalinya saling bertatapan. Kau tak pernah tahu alasan dari setiap pertemuan. Dan selembar surat yang mengerut dalam genggamanmu, mungkin telah menjadi sebuah alasan atas perjumpaan kalian.
“Leven?” Ia menatapmu, seperti meminta penegasan bahwa nama yang tercantum di kartu tanda pengenal yang baru saja kau miliki beberapa waktu lalu itu tak salah tulis.
Kau mengangguk. Malas, dan sedikit gelisah. Mungkin, itu karena cuaca di luar sana. Udara beg…

Siang Bersama Lana

Apa yang bisa kuingat tentang Lana, selain ia cantik, ceria, dan hangat seperti matahari pukul tujuh? Mungkin, kesadaran bahwa aku bisa begitu merasa terintimidasi—dan karenanya sangat mudah membenci—bila berada di dekatnya. Atau, mungkin juga, tentang secuil rasa rindu yang secara tak masuk akal bermain-main di pikiranku saat kami tak bersama. Segala hal tentang Lana serupa paradoks. Dan hampir saja aku terbiasa menjalani hidupku yang tenang, jauh dari gelombang yang memorak-porandakan, ketika pesan WA-nya masuk ke ponselku. Dan duniaku kacau balau sekali lagi.

            Ini Lana. Berhenti bersembunyi dariku, San. Aku datang menemui ibumu dan sudah memegang alamatmu. Satu-satunya alasan mengapa aku mengirim pesan ini, alih-alih meneleponmu langsung, karena aku takut kau akan langsung menutup telepon bila mendengar suaraku. (Kau tahu, aku sulit menerima penolakan.) Jadi, sambutlah aku di rumahmu. Sabtu, 23 September. Mungkin siang. Aku tak bisa memastikan jam berapa. Kuharap kau tida…