Postingan

Favorit

Tantangan Melisa

Gambar
Semua kegilaan ini mungkin diawali sejak kehadiran Melisa sebulan yang lalu. Kakak semata wayangku itu seperti anak hilang yang menemukan kembali jalan pulang. Beasiswa program pertukaran pelajar yang didapatnya, mengirimnya ke Australia setahun kemarin. Lalu, sekembalinya dari sana, tiba-tiba saja ia berubah menjadi alien yang terdampar di bumi.   “Sirik itu tanda tak mampu, Wili. Ngaku aja, kamu iri, kan?” balas Melisa ketika kukatakan betapa menyebalkannya ia sekarang.
Tentu saja aku tak tertarik meladeni Melisa. Kecepatan bicaranya bisa melewati 120 km/jam. Kadang-kadang, Melisa bisa jauh lebih cerewet dari Mama.
                Tapi, bagaimana aku tidak jadi gila? Tiba-tiba saja, ia mendadak punya hobi mengendus-endus bila aku melintas di dekatnya.
                “Ya ampun, Wili, sudah berapa abad kamu enggak mandi?” Melisa mengernyitkan hidungnya sambil menutup mulut. Gayanya seperti perempuan di iklan susu ibu hamil yang suka lewat di layar kaca kalau aku sedang menonton fil…

Kisah-Kisah Saat Hari Hujan

Gambar
Teh datang, manis dan beruap. Aku menenggelamkan wajahku di kepulan asap tipisnya. Berharap ia menyelusup ke dalam pori-pori kulitku, hingga sampai di hatiku yang resah dan membuatnya hangat. Hujan menderas di luar sana. Senyum ibuku semakin (selalu) membuatku merasa bersalah. Dan pertanyaan yang sama terus berulang di kepalaku, tak kunjung mampu kujawab. Tidak dengan mata ibuku yang terus tertuju ke arahku. Jika aku memilih jujur, apakah ada harga yang harus kubayar? * November 2007
            Aku hampir tidak pernah melihat ibuku menangis. Mungkin, sore hari yang gelap di akhir November itu adalah saat pertamanya. Aku mengintip dari balik pintu kamar. Pintu lemari jati terbuka lebar. Kain-kain berwarna-warni bertebaran di lantai. Ibuku seperti tenggelam di antara isi lemari. Ia terduduk sambil menunduk. Terisak.
            Aku gelisah. Selalu merasa tak nyaman bila ada yang menangis di sekitarku. Seperti saat Fara, teman sebangkuku, membasahi buku tulis Matematika-nya dengan air mata.
 …

Pak Weling

Gambar
Pak Weling adalah kurcaci tua dengan kerut-kerut tebal di wajahnya. Jenggot panjang berwarna kelabu tampak menghiasi dagunya. Sepasang mata hijaunya tampak awas melihat sekelilingnya. Pak Weling jarang tersenyum, sehingga banyak kurcaci yang enggan menyapanya. Sebenarnya, Pak Weling tidak jahat. Ia hanya tidak suka keramaian dan berkumpul bersama kurcaci lain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah mungil dan kebun apel miliknya, yang terletak di ujung desa kurcaci.
            Pagi itu, Pak Weling sudah berada di kebun apelnya. Ia berjalan perlahan-lahan di antara pohon-pohon apel yang rimbun. Buah apelnya jenis istimewa. Berwarna putih keperakan, dan rasanya manis dan renyah bila digigit.
Dua hari lagi waktunya panen. Apel-apel itu harus dipetik tepat sebelum salju pertama turun. Karena, apel-apel itu akan langsung membusuk bila terkena salju.
            “Selamat pagi, Pak Weling,” sebuah sapaan ramah terdengar dari pinggir pagar kebunnya. Pak Weling melihat siapa ya…