Postingan

Favorit

Hari yang Kosong

Gambar
Haning tidak tahu pasti berapa lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi memandang keran yang bocor. Mungkin sudah sepagian ini. Atau malah baru beberapa menit saja. Beberapa waktu terakhir, ia seperti mengalami disorientasi.
Tes... tes... tes....
Suara tetesan air yang berirama menjadi latar yang sempurna untuk kekosongan yang terasa kental di sekitarnya. Haning berusaha mengingat-ingat, apa yang membuat sekelilingnya terasa begitu muram dan sunyi. Mungkin semua ini dimulai sejak Una, putrinya, berpamitan sambil menitipkan pesan-pesan. “Hari ini aku pulang sore, Ma. Ada pelajaran tambahan di sekolah.”
“Kalau Mama tidak repot, aku ingin sekali makan puding cokelat buatan Mama sepulang sekolah nanti.” “Jangan lupa obat dan vitaminnya diminum, ya, Ma!” Wajah gadis berusia 14 tahun itu berkilau terkena cahaya matahari pagi. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha menelisik hati Haning. “Mama tidak boleh sedih sendirian. Berjanjilah Mama akan menungguku pulang dulu sebelum mulai menangis untuk Nene…

Tantangan Melisa

Gambar
Semua kegilaan ini mungkin diawali sejak kehadiran Melisa sebulan yang lalu. Kakak semata wayangku itu seperti anak hilang yang menemukan kembali jalan pulang. Beasiswa program pertukaran pelajar yang didapatnya, mengirimnya ke Australia setahun kemarin. Lalu, sekembalinya dari sana, tiba-tiba saja ia berubah menjadi alien yang terdampar di bumi.   “Sirik itu tanda tak mampu, Wili. Ngaku aja, kamu iri, kan?” balas Melisa ketika kukatakan betapa menyebalkannya ia sekarang.
Tentu saja aku tak tertarik meladeni Melisa. Kecepatan bicaranya bisa melewati 120 km/jam. Kadang-kadang, Melisa bisa jauh lebih cerewet dari Mama.
                Tapi, bagaimana aku tidak jadi gila? Tiba-tiba saja, ia mendadak punya hobi mengendus-endus bila aku melintas di dekatnya.
                “Ya ampun, Wili, sudah berapa abad kamu enggak mandi?” Melisa mengernyitkan hidungnya sambil menutup mulut. Gayanya seperti perempuan di iklan susu ibu hamil yang suka lewat di layar kaca kalau aku sedang menonton fil…

Kisah-Kisah Saat Hari Hujan

Gambar
Teh datang, manis dan beruap. Aku menenggelamkan wajahku di kepulan asap tipisnya. Berharap ia menyelusup ke dalam pori-pori kulitku, hingga sampai di hatiku yang resah dan membuatnya hangat. Hujan menderas di luar sana. Senyum ibuku semakin (selalu) membuatku merasa bersalah. Dan pertanyaan yang sama terus berulang di kepalaku, tak kunjung mampu kujawab. Tidak dengan mata ibuku yang terus tertuju ke arahku. Jika aku memilih jujur, apakah ada harga yang harus kubayar? * November 2007
            Aku hampir tidak pernah melihat ibuku menangis. Mungkin, sore hari yang gelap di akhir November itu adalah saat pertamanya. Aku mengintip dari balik pintu kamar. Pintu lemari jati terbuka lebar. Kain-kain berwarna-warni bertebaran di lantai. Ibuku seperti tenggelam di antara isi lemari. Ia terduduk sambil menunduk. Terisak.
            Aku gelisah. Selalu merasa tak nyaman bila ada yang menangis di sekitarku. Seperti saat Fara, teman sebangkuku, membasahi buku tulis Matematika-nya dengan air mata.
 …